Di saat gundah ini, tubuhku berjalan gontai. Di saat sepi ini, aku mengayunkan kakiku sambil menendang-nendang cipratan air hujan. Sesekali mataku sayup-sayup tertutup bagaikan bunga yang layu akibat kekeringan. Kawan, hatiku kini sungguh gundah. Tubuhku lemas dan tak ingin lagi otakku berfikir. Bisakah kau menebak mengapa aku begini?
Di saat begini, aku tak memiliki teman yang dapat kuandalkan. Di saat begini, juga takkan ada sosok ibu yang menenangkan. Ataupun adik manis yang setidaknya menghibur rasa dukaku.
Hari ini, adalah hari yang menguji kekuatan hati. Seminggu yang lalu, desaku terkena tsunami yang dahsyat. Dan aku tak hanya kehilangan harta bendaku. Aku kehilangan ibuku, adikku, dan teman kesayanganku. Kini, melihat mereka semua hanya tinggal harapan saja.
Dengan siapa aku tinggal sekarang? tentu dengan ayahku, Bapak Ferdi Siregar. Tak banyak yang bisa kuharapkan dengan ayah. Kondisi badan ayah kini sedang melemah, dan... tak ada yang bisa membantunya selain aku. Istri tercinta hanya meninggalkan kepadanya separuh hati, dia telah meninggal. Ayah tak bisa melupakan bunda. Begitu pula adikku, Fauzan Siregar yang nanti harus menjadi penerus keluarga telah meninggalkan kami dan mengikuti bundaku.
Harapan benar-benar menjadi harapan kosong yang tak dapat dipungkiri. Semua harapanku ingin memiliki keluarga lengkap harus tinggal sampai di sini. Tak bisa lagi curhat kepada Ibu. Tolong tuhan, bisakah aku mencium pipi adikku, memeluk sahabatku dengan kasih, dan menghapus air mata yang ada di pipi bunda? Kuharap kau terima doaku. Walau harapan, benar-benar tinggal harapan.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar