DYRA HARAP BLOG INI BERMANFAAT! TERIMAKASIH!!! (ANDA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEN-COPY POSTINGAN BLOG INI) SUDAH DIBLOCK!! COBA SAJA!
Tampilkan postingan dengan label Cerita-cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita-cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

Sepasang Pelangi (Chapter 3)

Tak henti-hentinya mataku melekat melihat foto bunda yang terpampang di meja riasku. Wajahnya cantik seperti putri tidur yang diceritakannya setiap malam kepadaku, ketika aku masih berumur 4 tahun. Kadang aku merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki bunda, tapi tentunya aku juga bangga karena banyak teman-teman yang memuji bunda. Tapi, kini hanya dari selembar foto saja aku bisa mengenang foto bunda. Aku sudah tak mendapatkan kesempatan lagi dari tuhan untuk memeluk dan memperhatikan wajahnya yang secantik para putri raja.

Selasa, 13 Desember 2011

Sepasang Pelangi (Chapter 2)

Sudah seminggu aku hidup dalam kemiskinan ini. Keadaan ayahku pun tak urung membaik, semakin parah. Ayah terus memanggil-manggil nama bunda dan Fauzan. Aku juga bingung harus melakukan apa lagi, dan mendapatkan nafkah dari mana. Kondisi ayah seperti ini, tak memungkinkan lagi untuk bekerja, jadi? apakah aku yang baru berumur 12 tahun ini bekerja? tapi tidak tahu apa.

Banyak teman-temanku yang menjadi copet saat keadaan genting seperti ini. Banyak juga yang menjadi pengemis. Sempat terbesit di pikiranku untuk menjadi copet, pengamen, ataupun pengemis. Tapi, satu hal yang membuatku tak jadi melakukannya adalah karena bunda. Bunda pernah berkata, "Nak, jangan pernah kamu pengemis, mencuri, atau mengamen. Sungguh, itu karena ibu yakin kamu bisa mencari jalan terbaik,". Sampai sekarang, kata-kata bunda sudah seperti panduan hidupku.

Aku menatap lekat-lekat para semut pekerja yang ada di taman belakang rumahku. Betapa ingin aku menjadi mereka. Dengan mudahnya bekerja tanpa harus mencari pekerjaan. Mereka makan bersama, tinggal bersama, dan mati bersama. Sungguh! aku rela jiwaku ini ditukar dengan semut rapuh seperti itu.

Ada seorang teman dekatku, yang masih hidup ketika bencana kemarin, namanya Soo Jung . Dia adalah anak Bapak Kim Joon Jung, seorang pengusaha terkenal berkebangsaan Korea yang kaya raya. Soo Jung banyak kehilangan harta bendanya saat tsunami itu melanda. Tetapi, betapa beruntungnya, Perusahaan ayahnya masih bisa menghasilkan uang. Kini, di tengah penderitaan kami, dia masih bisa hidup mewah.

Kembali ke cerita tentang apa yang aku kerjakan, aku tidak tahu harus bekerja menjadi apa. Apakah pedagang asongan? pedangan kaki lima? ah! tapi semua itu pastinya butuh bantuan ayah!! Walau kuyakin ayah akan memaksakan diri membantuku, apakah aku tega kalau ayah harus membantuku dalam kondisinya yang buruk? itu kejam.

Apa, ya yang masih tersisa saat tsunami kemarin? Hmm.. aku berpikir sejenak. Oh, iya!!! "LAPTOP!!" aku berteriak hingga rumahku tergoncang!! (hahaha... ya ampun, terlalu hiperbola).

Tak terpikir sebelumnya! bukankah aku bisa menulis cerita dengan laptop-ku ini? pekerjaan yang membantu!!   terimakasih!! Terimakasih, tuhan! apa yang akan kutulis, ya?! aku istirahat dulu, deh! kisah hidupku akan dilanjutkan nanti ~~ :)


Sepasang Pelangi (Chapter 1)

Di saat gundah ini, tubuhku berjalan gontai. Di saat sepi ini, aku mengayunkan kakiku sambil menendang-nendang cipratan air hujan. Sesekali mataku sayup-sayup tertutup bagaikan bunga yang layu akibat kekeringan. Kawan, hatiku kini sungguh gundah. Tubuhku lemas dan tak ingin lagi otakku berfikir. Bisakah kau menebak mengapa aku begini?

Di saat begini, aku tak memiliki teman yang dapat kuandalkan. Di saat begini, juga takkan ada sosok ibu yang menenangkan. Ataupun adik manis yang setidaknya menghibur rasa dukaku.

Hari ini, adalah hari yang menguji kekuatan hati. Seminggu yang lalu, desaku terkena tsunami yang dahsyat. Dan aku tak hanya kehilangan harta bendaku. Aku kehilangan ibuku, adikku, dan teman kesayanganku. Kini, melihat mereka semua hanya tinggal harapan saja.

Dengan siapa aku tinggal sekarang? tentu dengan ayahku, Bapak Ferdi Siregar. Tak banyak yang bisa kuharapkan dengan ayah. Kondisi badan ayah kini sedang melemah, dan... tak ada yang bisa membantunya selain aku. Istri tercinta hanya meninggalkan kepadanya separuh hati, dia telah meninggal. Ayah tak bisa melupakan bunda. Begitu pula adikku, Fauzan Siregar yang nanti harus menjadi penerus keluarga telah meninggalkan kami dan mengikuti bundaku.

Harapan benar-benar menjadi harapan kosong yang tak dapat dipungkiri. Semua harapanku ingin memiliki keluarga lengkap harus tinggal sampai di sini. Tak bisa lagi curhat kepada Ibu. Tolong tuhan, bisakah aku mencium pipi adikku, memeluk sahabatku dengan kasih, dan menghapus air mata yang ada di pipi bunda? Kuharap kau terima doaku. Walau harapan, benar-benar tinggal harapan.

Bersambung...

Jumat, 11 November 2011

Maafkan Aku.. (Story part 2)

Suatu hari, dikala ia sedang dilanda kemacetan, ia turun dari mobil, ia melihatku sedang membeli sebotol minuman.

"Hai!" sapanya padaku. Aku benar-benar tak menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya saat itu. Seperti kebetulan.

"Hai, Nin." balasku datar. Sungguh, aku malas sekali bertemu dengannya!

"Yuk, ikut aku! mamaku ada di mobil, aku dan mama akan pergi ke mall. Kamu mau ikut?" tawar Nina.

"Nggg.. maaf, ya Nin, terimakasih. tapi aku harus les pukul 3." tolakku halus.

"Ini masih pukul 1, kok. Ya sudah, kalau begitu kamu ke mobilku saja, ya. Aku punya buku komik baru kesukaanmu." ujar Nina.

"ng.. maaf, aku nggak bisa."

"Ayolah.." Nina segera menarik tanganku, aku terjatuh. Apa daya? aku tak bisa. Aku hanya bisa mengikuti kemauannya saja.

"DIRA!!! AWAS!!" Teriakku panik. Sebuah mobil sedan melesat cepat ke arah kami.

Aku ditimpanya, tapi aku terselamatkan, walaupun aku terbentur dan kepalaku agak sedikit berdarah. Sedangkan Nina terpapar dengan kepalanya yang berdarah dan terus mengucur.

Mama Nina, yang kupanggil Tante Rassika, segera mencari pertolongan. terjadi kemacetan parah di jalan itu.

"Pak, tolong, ya pak.. anak saya pak....tolong pak.." Tante Rassika gemetaran dan panik, kulihat air matanya menetes, tak berhenti, dia tak bisa berjalan tegak,tubuhnya amat lemas, tangannya kaku. Aku tahu apa yang Tante Rassika rasakan. Walau aku tak tahu bagaimana rasanya mempercayai bahwa anaknya separah itu.

Nina segera dilarikan ke rumah sakit Bangsa Kita. Dia diberikan penanganan intensif. Aku sudah menelpon mama, aku akan mengganti lesku yang tidak aku laksanakan hari ini besok. Mama mengizinkan. Aku pun menemani Nina yang terkapar di ruang UGD. Kepalanya penuh balutan-balutan putih. Ah..

Setelah agak membaik, dokter menyarankan Nina dipindahkan ke ruang 169. Dia akan diperiksa lebih lanjut.

Aku diperbolehkan masuk setelah keluarganya keluar. Ternyata Nina sudah siuman, walau badannya terlihat amat lemas. Aku duduk di sampingnya dan menggengam tangannya kuat-kuat.

"Dira.." panggil Nina lirih.

"Apa benar ini Dira? Apa Dira masih di sampingku?"

"Iya, aku Dira."

"sebelumnya, aku ingin mengatakan bahwa hidupku tak lama lagi." kata Nina.

"Jangan bilang begitu, please.." ujarku lirih, lemas, tak berdaya.

"Iya, maafkan aku Dira. Aku tahu sebenarnya selama ini kau membenciku. Tapi aku menyangimu, Dira. Seperti adikku sendiri."

Aku segera berpuisi..

"Ketika itu kau memiliki keindahan
Ketika itu kau aku memiliki kecantikan
Ketika itu kau memiliki kekuatan
Tapi.. itu semua sudah terlewatkan


Hari demi hari yang kulewati, tak ada gunanya tanpamu
Air mata ini tak bisa kubendung lagi
Tak terbayang kuditinggalkan oleh seseorang yang kusayangi..
Aku tahu kau akan pergi.


Bila dapat aku ikuti kamu, aku mau
Tapi aku tak bisa!


Bila kau sudah bebaring tenang nanti,
jangan lupakan aku
Dibalik nisanmu itu, sesungguhnya ada cinta abadi dariku.
Dibalik semua cerita hidupku, semua itu ada kamu"


Nina tersenyum, dengan suara yang lirih ia berpuisi,

"ketika kita masih bersama,
segalanya terasa begitu mudah
segalanya indah
kepahitan menjadi manis


Aku memang akan pergi dari dunia ini..
Tapi yakinlah, aku takkan pergi dari hatimu


Segala memori yang kualami bersamamu, tak mungkin aku lupakan.
Semua masa-masa indah 
sangat sulit untuk aku lupakan..
maafkan aku, harus pergi..


Tak cukup lagi air mata ini untuk menangis.
Hanya dapat mengingat kenangan indah
kuharap terakhir kalinya kau memelukku, menggengam erat tanganku,
agar aku bisa terhibur, walau sulit..


Dibalik nisanku, ada kenangan kita
Dibalik cerita masa laluku, selalu tersimpan masa-masa indah


Kubacakan ini dengan menangis, aku tak mungkin membendung air mata ini
Tak tahu apa yang terjadi..
Sebentar lagi.."

Aku menangis kuat-kuat, memeluknya, memegang erat tangannya. Tuhan, tolong! sebentar lagi! sebentar saja berikan aku kesempatan untuk terus bersamanya!

Dia membalas pelukanku, erat sekali. tanganku ia genggam dengan lemah. tak lama, genggaman tangannya lepas. nyawanya.. hilang..

"TIDAKKK!" jeritku histeris. Nina benar-benar meninggalkanku.

Dokter dan keluarga Nina masuk mendengar teriakanku. Wajah Nina sudah pucat sekali.

Nina, aku tahu kau meninggalkanku, tapi aku tetap yakin bisa jadi sahabat dalam hatimu.. selamanya..


Kau anugerahku
Kau yang kusayangi
Apa kau sadar? 
sebenarnya dibalik kematianmu itu.
terbentuk sungai airmata dari semua orang yang menyayangimu..
Semoga tenang.. Aku tahu aku pun akan menyusulmu, Nina

tertanda,
Dira, sahabatmu

Rabu, 02 November 2011

Maafkan aku.. (Story) Part 1


Mama sudah melarangku untuk tidak bermain-main lagi dengannya, apa kalian tahu siapa 'dia' itu? dia adalah Nina, sahabatku.

Memang, selama ini aku yang selalu mendapat rangking 1 di kelas. Kini, setelah aku berteman dengannya, rangkingku menurun menjadi rangking 27.

Mamaku marah besar. Ia bilang selama ini aku terlalu banyak bermain dengan Nina. Ya, memang aku sadar. Aku tahu kalau dia membuatku kacau dan aku juga tahu kalau selama ini Mama tidak suka aku bersahabat dengan Nina. Tiap kali Nina datang ke rumahku, mama selalu mengatakan "Dira lagi tidur.." padahal aku sedang membaca buku.

Mama juga tak pernah senang ketika aku janjian dengannya. Mama lebih suka aku janjian dengan temanku yang lain.

Jujur, dia tidak pernah membolehkanku berteman dengan teman lain. Bila ada temanku yang sedang mengobrol denganku, ia langsung mendorong temanku itu lalu mengajakku pergi. Tapi, apa daya. Aku tak kuat melawannya. Tubuhku yang kecil ini ditariknya. Sudah berkali-kali kubilang padanya agar ia mau berteman dengan yang lain. Tapi, dia tidak mau. Dan kamu tahu akibatnya? di sekolah ini teman yang akrab denganku hanyalah dia. Walaupun aku masih punya teman yang lain, aku takut untuk berbaur. Sudah terbiasa,  Nina mungkin bukan yang terbaik bagiku.

Kalau Nina tak masuk, alhasil aku harus sendirian tanpa teman. Ah, itu buruk. Kini aku benci sekolah, tidak seperti dulu yang memiliki teman banyak.

Dia selalu protes bila aku tak mau menemaninya, dia selalu menyuruh-nyuruh aku, tak mau bergerak sendiri, egois, suka melebih-lebihkan, tidak mau dianggap salah, menyalahkan orang lain, Ingin semua orang merasakan penderitannya, suka melampiaskan kemarahannya, genit, tidak menepati janji, selalu mencari alasan yang tidak sesuai, tidak sopan pada orang tua, menganggap dirinya terkuat, dan ingin keinginannya selalu terpenuhi. Aku benar-benar ingin memutuskan hubungan persahabatanku dengannya. SEKARANG JUGA!

Pernah, dia mengajakku bermain ketika pulang sekolah. Tapi, tiba-tiba mamanya datang. Lalu ia pulang. Esok harinya, ia marah-marah padaku dan menuduh bahwa aku yang menyebabkan ia dimarahi.

Lalu, dia memarah-marahi penjemputku. Dia bilang penjemputku tak mau toleransi karena kami tidak diberi waktu bermain. Padahal ia sudah menunggu kami selama 1 jam. Dia kan cuma ojek yang perlu mengantar orang lain.

Dia pernah ngotot ingin pulang bersamaku naik motor ojekku. Badannya yang besar membuat sempit sekali. Grr!! apalagi fia meminta agar diantar ke rumahnya lebih dulu. Padahal rumahku 'kan lebih dekat, dan tukang ojekku itu adalah langgananku. Aku yang lebih berhak daripada dia.

Sesampainya di rumah, dia menyuruhku masuk sebentar. Ternyata? dia malah melama-lamakan. Dia sengaja. Tuh, kan dia nggak menepati janji.

Dan alhasil di rumah aku dimarah-marahi habis-habisan. Tapi? dia biasa saja, dan menyalahkanku kurang hati-hati. AKU SEBAL!!!!

Bersambung..